CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

LITTLE RED STARS

Tampilkan postingan dengan label kisah islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah islami. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2011

PENGORBANAN SEORANG IBU

Dahulu kala di Zaman Bani Israel terdapat seorang laki-laki yang abid dan dihormati tengah menghadapi suatu keadaan sulit. Maka dikirimlah istrinya untuk meminta bantuan bagi keluarganya, maka datanglah ia ke rumah laki-laki yang kaya raya dan meminta belas kasihannya untuk memberikan sedikit bantuan yang dibutuhkan anak-anaknya.

Maka berkatalah laki-laki itu "Ya, akan tetapi berikanlah aku ketenangan darimu" Maka diamlah wanita itu dan ia kembali ke rumahnya dan demi ia melihat keluarganya berteriak-teriak meminta pada ibunya : "Oh ibuku kami rasanya mau mati dari kelaparan, maka berilah kami apa yang dapat kami makan", mendengar isak tangis anak-anaknya tak tahan juga mendengarnya. Sekuat apapun hatinya dipertahankan, tangis anak-anaknya melebihi kuatnya suara hati yang menjerit di dadanya. Maka ia kembali pergi kepada laki-laki itudan berbicaralah ia padanya tentang masalah yang dihadapi keluarganya, laki-laki itu berkatalah padanya : "Apakah kalau aku penuhi kebutuhanmu, kebutuhanku akan engkau penuhi?", dengan resah dan gelisah berkatalah wanita itu : "Ya".

Maka ketika mereka hanya berdua saja, gemetarlah sendi-sendi wanita itu sampai hendak putus rasanya dari persendiannya. Maka berkatalah laki-laki itu : "Apa yang membuatmu seperti ini?", Ia berkata "Sesungguhnya aku takut kepada Allah".

"Engkau takut kepada Allah dengan taqdir yang ditentukanNya kepada engkau, seharusnya engkau lebih takut kepada Allah dengan laki-laki seperti aku".

Maka ia menyuruhnya pulang dan memberi kebutuhannya, Ia pulang dengan membawa hadiah pemberian laki-laki itu. Betapa gembira hatinya, ternyata orang itu menguji dirinya, sejauhmana kekuatan imannya. Dan ia menyadari bahwa dirinya sangatlah lemah, kalau bukan karena kasih sayang Allah, maka hancurlah kehormatannya, dan hancur pulalah keluarganya. Dengan peristiwa itu, ia mengambil hikmah besar dalam hidupnya dan bergembiralah anak-anaknya.

APAKAH SEMUANYA SUDAH TIDUR

Dalam suatu perjalanan dagang yang melelahkan, beristirahatlah kafilah dagang itu di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian. Desir angin sahara, dan taburan bintang di langit menambah suasana sunyi di lembah itu. Dalam kafilah itu, tersebutlah seorang pria telah begitu cintanya kepada seorang wanita. Begitu cintanya pada wanita itu, bila sehari tak jumpa, sebulan jua rasanya. Detik dan menit berlalu sangat berharga baginya bila bersama yang dikasihinya.

Maka pergilah pemuda itu pada kekasihnya, saat ia berada berduaan dengan kekasihnya di tempat sunyi dan semua orang tidur dengan lelapnya, malam nan gulita, maka dibukalah isi hatinya pada wanita itu. Sehingga berkatalah wanita itu : "Lihatlah dulu apakah orang-orang sudah tidur semuanya?", gembiralah hati pemuda itu mendengar apa yang diucapkan kekasihnya, ia menduga wanita itu telah terperangkap jaring-jaring cintanya yang memabukkan. Maka ia mengitari sekeliling, mengelilingi kafilah-kafilah di sekitarnya. Dilihatnya semua orang telah tidur dengan lelapnya. Ia berkata pada kekasihnya : "Ya, semuanya telah tidur."

"Apa yang kamu katakan tentang Allah, apakah Dia tidur pada saat ini?" tanya wanita itu.

"Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pernah terbawa lupa atau tidur sesaat pun." jawabnya

"Sesungguhnya yang belum tidur dan tidak pernah tidur melihat kita meskipun seluruh manusia tidak melihat kita, maka jelaslah Dia lebih utama untuk kita takut kepadaNya" jawab wanita itu

Maka ditinggalkanlah wanita itu dengan rasa takut yang amat sangat kepada Allah. Maka pulanglah ia dengan hati yang tercampur baur dan bertaubat atas apa yang telah diperbuatnya. Wanita itu telah menyadarkannya dari kesesatan yang pernah dibayangkannya. Andaikata ia menuruti godaan syetan niscaya ia akan menjadi orang yang sangat merugi dan menyesali perbuatannya...

Selasa, 15 Maret 2011

KISAH RABIAH ADAWIYAH PART I (AIR MATA SUFI)


Rabiah binti Ismail al-Adawiyah dilahirkan di Basrah sekitar tahun 95 H/713 M. Ia diberi nama Rabiah karena ia putri keempat dari 3 putri lainnya dalam keluarga. Ia berasal dari keluarga miskin. Bahkan pada waktu Rabiah dilahirkan, rumah tangga orang tuanya sedang mengalami krisis ekonomi hingga minyak lampu pun tidak dimilikinya. Ia lahir dalam suasana kehidupan yang penuh dengan berbagai fitnah, pemberontakan, kedzaliman penguasa dan kemewahan dinasti Umayyah. Rabiah kehilangan orang tuanya sejak ia masih kecil, Ia telah menjadi yatim piatu di masa ia membutuhkan kasih sayang orang tua. Ketiga saudara perempuannya mati karena wabah kelaparan yang melanda Basrah. Kemiskinan yang berkepanjangan itu membuat Rabiah menjadi hamba sahaya. Kehidupan hamba sahaya penuh dengan penderitaan yang silih berganti.

Kemampuan Rabiah menggunakan alat musik dan menyanyi dimanfaatkan oleh majikan yang rakus dengan harta dunia. Rabiah sadar benar terhadap dirinya sebagai hamba sahaya diperas sedemikian rupa oleh majikannya membuat ia selalu minta petunjuk dan bimbingan kepada Allah SWT, di pagi hari dan di malam hari serta tidak pernah lupa setiap waktu. Ia yakin benar bahwa pada suatu saat nanti waktu pertolongan Allah akan datang jua dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berada dalam penderitaan dan memohon perlindungan, selalu mendekat kepada-Nya.

Dalam penderitaan yang sedemikian rupa ia terus mendekatkan diri kepada Allah, sampai suatu saat ia mendengar hatif, suara gaib yang menyatakan : "Jangan engkau bersedih hati, karena kelak di kemudian hari orang-orang shaleh akan cemburu melihat kedudukanmu."

Setiap hari terjadi perubahan dalam diri Rabiah, ia tidak menghiraukan sekelilingnya, meskipun tugas sehari-hari tetap dilaksanakan. Ia tidak lagi memperhatikan dunia. Perubahan itu mulai tercium oleh majikannya. Di waktu malam Rabiah shalat dan mendekatkan diri pada Allah, lalu ia berdoa : "Ya Rabbi, Engkau Maha Tahu bahwa aku sangat ingin selalu bersamaMu, hati nuraniku sangat ingin berbakti sekuat tenagaku untukMu, seandainya aku yang menentukan keadaanku maka sejenak pun aku tak ingin menghentikan baktiku padaMu. Tetapi Engkau telah menempatkan aku di bawah kemurahan hati orang lain."

Pada pagi harinya Rabiah dipanggil oleh majikannya dan berkata kepadanya : "Wahai Rabiah, aku telah memutuskan untuk memerdekakanmu sepenuhnya, seandainya engkau ingin menetap  tinggal di rumahku ini kami semua akan gembira dan menerima engkau sebagai orang yang bebas dan menerima semua fasilitas dari kami. Tetapi seandainya engkau berkeinginan untuk meninggalkan rumah ini maka kami mendoakan keselamatan bagimu dan segala permintaanmu itu akan kami kabulkan."

Sejak itu ia kembali ke desanya dan meninggalkan kelezatan dunia, kehidupan yang digelutinya adalah zuhud dan mengisinya dengan semata-mata beribadah kepada Allah yang menjadi tumpuan segala cintanya selama ini. Ia mengatakan : "Aku tinggal kan cintanya Laila dan Suda mengasing diri, dan kembali bersama rumahku yang pertama, dengan berbagai kerinduan menghimbauku, tempat-tempat kerinduan cinta abadi."

Suatu hari Rabiah mendapat kiriman uang 40 dinar dari sahabatnya ia menangis dan mengangkat tangannya ke atas langit : "Engkau tahu Ya Allah aku tak pernah meminta hartya dunia dariMu, meskipun Kaulah pencipta dunia ini. Lantas, bagaimana aku dapat menerima uang dari seseorang, sedangkan uang itu sesungguhnya bukan kepunyaannya."

Dalam doanya ia berkata : "Ya Rabbi... bila aku menyembahMu karena takut nerakaMu maka biarkanlah diriku di dalamnya. Bila aku menyembahmu karena berharap surga dariMu maka jauhilah aku dari sana. Namun jika aku menyembahMu hanya demi Engkau saja maka janganlah Engkau tutup keindahan abadiMu."

Orang-orang datang ke rumahnya untuk minta petuah-petuah dan pelajaran darinya atau sekedar silaturrahmi kepadanya. Tokoh-tokoh besar seperti Malik bin Dinar, Sufyan at-Tsauri datang kepadanya. Rabiah hadir pada zaman itu sebagai penyeimbang suasana kehidupan yang bergelimang dengan kekayaan harta benda, kecintaan terhadap dunia, kemewahan istana dan perkembangannya. Disitulah ia berdiri mengembangkan mahabbah (cinta) hanya pada Ilahi Rabbi.

Diceritakan bahwa ada 2 orang pencuri menunggunya selesai Shalat, setelah ia selesai shalat Rabiah mengajak mereka berdoa kepada Allah, akhirnya, merekapun berdoa dan menjadi muridnya. Ia meninggal pada tahun 185 H/801 M.